Produksi Beras DKI Jakarta Capai 876 Ton Sepanjang 2025
Jakarta — Di tengah gedung tinggi dan lalu lintas yang tak pernah tidur, Jakarta masih menyimpan cerita tentang sawah dan petani. Sepanjang 2025, **produksi beras DKI Jakarta tercatat mencapai 876 ton—angka yang mungkin tampak kecil dibanding sentra padi nasional, namun bermakna besar bagi ketahanan pangan ibu kota.
Produksi ini menegaskan satu hal penting: pangan juga tumbuh di kota, meski dengan ruang yang kian terbatas.
Pertanian di Ruang Sempit
Produksi beras Jakarta berasal dari lahan pertanian tersisa di wilayah pinggiran dan kantong-kantong hijau kota. Dengan tekanan alih fungsi lahan yang tinggi, para petani bertahan melalui efisiensi, penjadwalan tanam yang cermat, dan pemanfaatan irigasi terbatas.
Di balik angka 876 ton, ada ketekunan harian—menjaga sawah dari genangan, hama, dan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi.
Makna bagi Ketahanan Pangan
Secara volume, produksi beras Jakarta memang belum menjadi penopang utama pasokan. Namun kontribusi ini:
-
memperkuat stok lokal,
-
mengurangi ketergantungan penuh pada pasokan luar daerah,
-
dan menjadi buffer psikologis saat distribusi terganggu.
Dalam konteks kota megapolitan, setiap ton beras lokal berarti ketahanan yang sedikit lebih kuat.
Peran Pemerintah Daerah
Pemerintah Provinsi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong perlindungan lahan pertanian tersisa serta penguatan produktivitas. Dukungan mencakup pendampingan teknis, pengelolaan air, hingga integrasi dengan program pangan perkotaan.
Pendekatan ini menempatkan pertanian sebagai bagian dari ekosistem kota, bukan sisa yang terpinggirkan.
Dimensi Kemanusiaan: Petani Kota
Petani Jakarta bekerja di bawah bayang-bayang pembangunan. Banyak dari mereka melanjutkan tradisi keluarga, mempertahankan sawah sebagai identitas dan sumber hidup. “Selama masih bisa menanam, kami tanam,” ujar seorang petani. Kalimat sederhana yang mencerminkan daya tahan manusia.
Produksi beras lokal juga menjaga keterhubungan warga kota dengan sumber pangannya—bahwa nasi di piring tidak selalu datang dari jauh.
Tantangan yang Dihadapi
Tekanan terbesar datang dari:
-
alih fungsi lahan,
-
kualitas air dan banjir,
-
serta regenerasi petani.
Tanpa kebijakan perlindungan yang konsisten, angka produksi berisiko menurun. Karena itu, inovasi—dari varietas adaptif hingga pertanian perkotaan terpadu—menjadi kebutuhan.
Penutup
Capaian 876 ton beras sepanjang 2025 adalah pengingat bahwa Jakarta bukan hanya konsumen, tetapi juga produsen—meski kecil, namun bernilai. Di tengah ketergantungan pasokan luar, setiap panen lokal adalah investasi pada ketenangan pangan.
